Benarkah Piala Dunia 2018 Adalah Piala Dunia Terburuk?

Benarkah Piala Dunia 2018 Adalah Piala Dunia Terburuk?

Benarkah Piala Dunia 2018 Adalah Piala Dunia Terburuk?

Benarkah Piala Dunia 2018 Adalah Piala Dunia Terburuk? – Seorang teman menyebutkan bahwa ini adalah Piala Dunia paling buruk sepanjang yang ia pernah tonton. Itu artinya, ini merupakan ajang Piala Dunia terburuk sepanjang dua dasawarsa atau bisa di katakan 20 tahun terakhir. Argumennya sangat kuat. Dari lima negara terkuat yang ada dalam ranking FIFA, hanya satu (Belgia) yang lolos ke Babak semifinal. Jika menilik sampai 10 besar, hanya ada tambahan Prancis pada Babak semifinal. Itu baru dari sisi negara. Dari sisi pemain, untuk semifinal Piala Dunia 2018 ini cuman diikuti oleh satu dari 10 pemain terbaik yakni (Eden Hazard).

Piala Dunia 2018 semacam apa ini yang cuman diikuti oleh negara kelas dua dan pemain-pemain yang kurang mentereng,” Ujar dia beralasan. Menurutnya, ini merupakan Piala Dunia KW. Kualitasnya sangat diragukan. Apa lagi yang harus ditonton itu semuanya dari pemain-pemain yang tidak berada di papan atas sepakbola.

“Daftarkan segera diri anda bersama kami di jelasbola, proses daftar-deposit-withdraw yang mudah dan cepat 24 jam, hanya dengan deposit 50 ribu saja anda sudah bisa bergabung bersama JELASBOLA Agen Judi Online Piala Dunia 2018”JELASBOLA Agen Judi Resmi Piala Dunia 2018Silahkan Hubungi Costumer Service JELASBOLA
Kami Siap Membantu Anda 24 jam non-stop.

Saya sendiri membantah hal itu. Pertama, saya sejak dahulu sangat menyukai kejutan dan ada juga pecinta sepakbola yang mencintai tim-tim underdog. Bukan sok anti-mainstream, tapi mengunggulkan tim-tim kuat itu sudah mubajir dan tidak seru, tidak sering deg-degan ataupun sport jantung. Kalau kalah ngenes, kalau menang ya memang sudah sewajarnya. Kejutan dari tim kelas dua itu seperti petasan yang selalu buat semua orang kaget dan riang.

Ada juga alasan lain. Saya berharap ada sesuatu yang baru. Menambah bintang di dada pemain Brasil itu tidak akan mengubah suasana dan percaturan dalam dunia sepakbola. Ya, status quo. Sebagai seorang Leo yang sangat revolusioner, saya tidak terlalu menyukai status quo.

Lalu Kita kembali ke alasan teman saya yang masuk akal itu, Benarkah?

Kalau kita mempelajari statistik seperti dia juga membacanya, memang apa yang dia katakan masuk akal. Tapi, turnamen bola seperti Piala Dunia kan bukan sebuah catatan sekolah hasil akumulasi dari tugas-tugas harian dan mingguan dalam satu tahun. Turnamen maerupakan sebuah kompetisi dalam waktu tertentu. Siapa yang bisa memanfaatkan waktu yang sangat minim itu, dia yang pastinya akan berhasil.

Piala Dunia itu sangat serupa dengan ujian nasional untuk anak-anak SD-SMA. Ujian sesaat yang tidak bisa digunakan untuk mengukur prestasi dan performa secara matematika. Tidak adil, tentu saja (karena itu saya menentang UN sebagai bagian dari standar kelulusan sekolah). Karena ada banyak faktor yang berpengaruh sampai hasil yang didapat bisa saja sangat berbeda. Misalnya, pelatih. Nasib sial yang didapatkan oleh Argentina, tentu saja tidak akan terjadi jika mereka mempunyai pelatih yang kepala botaknya punya lebih banyak ide dibanding sekadar hoby jerit dan loncat-loncat di pinggir lapangan.

Untungnya, hidup tidak sama dengan Piala Dunia. Keberhasilan kita tidak ditentukan oleh sebuah kompetisi yang berjalan sebentar, tapi dari sebuah perjuangan terus menerus sepanjang hidup kita. Beda dengan sepakbola, kita tidak bisa dinilai dari gol yang ada, tapi dari semua usaha yang sudah kita lakukan sampai saat ini.

Benarkah Piala Dunia 2018 Adalah Piala Dunia Terburuk?

AGEN BOLA | JUDI BOLA | MENANG BOLA | SITUS BOLA

jelaspoker

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *